Gambar di atas adalah gambaran klinis tentang dyspepsia
maka dari itu guys!! an apple keeps away from the doctor, mencegah lebih baik daripada mengobati
DISPEPSIA

A. Pengertian dan Gejala Dispepsia
Dispepsia adalah sekumpulan gejala berupa
nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian atas yang menetap atau berulang
disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang,
kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada terasa panas
yang telah berlangsung sejak 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala timbul
dalam 6 bulan sebelumnya. Gejala – gejala tersebut dapat disebabkan oleh
berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit maag, namun
penyebabnya tidak harus selalu oleh penyakit maag, oleh karena itu dalam medis
untuk menggambarkan sekumpulan gejala tersebut digunakanlah istilah sindrom
dispepsia.
Berdasarkan ada tidaknya penyebab dispepsia
dibagi menjadi dua jenis yaitu :
·
Dispepsia tipe
organik apabila dispepsia diketahui penyebabnya dengan jelas yaitu ditemukannya
kelainan organ misalnya maag kronis, tukak lambung, kanker lambung, batu
empedu, liver, dan penyebab lainnya.
·
Dispepsia tipe
fungsional apabila dispepsia tidak diketahui penyebabnya, dan tidak didapati
kelainan pada pemeriksaan saluran pencernaan sederhana, atau tidak ditemukannya
kelainan organ. Ada kemungkinan bahwa dispepsia jenis ini berhubungan dengan
gangguan pada motilitas (pergerakan) saluran pencernaan bagian atas mulai dari
kerongkongan, lambung hingga usus halus bagian atas.
Berdasakarkan
gejala dominan yang muncul dispepsia dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
·
Dispepsia tipe
ulkus apabila keluhan yang dominan adalah nyeri ulu hati.
·
·
Dispepsia tipe
dismotilitas apabila keluhan yang dominan adalah perut kembung, mual dan cepat
kenyang.
·
Dispepsia tipe
nonspesifik apabila keluhan tidak jelas untuk dikelompokkan pada salah satu
jenis di atas.
B. Patofisiologi Dispepsia

Adanya perubahan pada gaya hidup dan
perubahan pada pola makan masih menjadi salah satu penyebab tersering
terjadinya gangguan pencernaan, termasuk dispepsia, namun bagaimana dispepsia
ini bisa terjadi hingga saat ini masih belum sepenuhnya dimengerti dan
penelitian-penelitian yang ada masih terus dilakukan terhadap faktor – faktor
yang dicurigai berperan dalam menyebabkan dispepsia adalah sebagai berikut:
·
Gangguan
pergerakan saluran pencernaan seperti gangguan pengosongan dan pengembangan
lambung dapat menyebabkan terjadinya gangguan penyaluran makanan ke usus
halus. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya keluhan rasa penuh saat makan,
cepat kenyang, mual dan muntah.
·
Saluran
pencernaan yang terlalu sensitif terutama lambung dan usus halus terhadap
rangsangan pengembangan lambung, asam lambung, asam empedu, dan lemak dapat
mengakibatkan timbulnya keluhan nyeri setelah makan, bersendawa, dan mual.
·
Pengeluran asam
lambung yang berlebihan dan gangguan pembersihan asam lambung menuju duodenum
dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada lambung yang menimbulkan keluhan
nyeri pada ulu hati.
·
Stres, gangguan
cemas dan depresi telah dilaporkan berhubungan dengan penurunan kontraksi
lambung dan peningkatan pengeluaran asam lambung oleh karena itu semakin tinggi
tingkat stres, maka semakin tinggi risiko untuk mengalami dyspepsia.
·
Infeksi lambung
Helicobacter pylori mungkin mempengaruhi terjadinya kelainan-kelainan pada
lambung dan tingkat keparahan gejala dispepsia namun masih belum dapat disimpulkan
dengan pasti hubungan yang kuat diantaranya.
C.
Pengobatan
Dispepsia

Pengobatan akan tergantung pada penyebab
dispepsia, penggunaan obat adalah pengobatan yang paling umum diterapkan. Jika
ternyata ada ulkus lambung, maka itu bisa disembuhkan dengan meminum obat maag
penurun asam lambung seperti antasida, ranitidin, lansoprazole dan omeprazole.
Jika disertai dengan infeksi lambung, maka diperlukan juga antibiotik untuk
membunuh bakteri penyebab.
Apakah obat-obatan untuk dispepsia memiliki
efek samping?
Obat-obatan untuk dispepsia paling sering
hanya memiliki efek samping ringan yang akan hilang sendiri. Beberapa
obat bisa membuat tinja berwarna hitam, sakit kepala, mual atau diare. Ingatlah
untuk mengambil obat seperti sesuai petunjuk dokter. Jika Anda
diresepkan antibiotik, maka habiskanlah, bahkan ketika Anda mulai merasa
lebih baik.
D.
Ubah Pola Hidup
·
Makan
sedikit-sedikit tapi sering, bukan dua atau tiga kali dalam porsi besar.
·
Setelah makan,
tunggu 2-3 jam sebelum berbaring. Jangan makan terlalu larut malam.
·
Hindari coklat,
mint, dan alkohol karena dapat memperburuk dyspepsia
·
Makanan pedas,
makanan yang memiliki banyak asam (seperti tomat dan jeruk), dan kopi dapat
membuat dispepsia lebih buruk pada beberapa orang. Maka sebisa mungkin
handarilah
·
Jangan merokok
atau mengunyah tembakau.
·
Jangan
mengenakan pakaian ketat di sekitar perut.
·
Hindari stress,
baca juga: stress penyebab dispepsia.
·
Tidak
mengonsumsi banyak obat anti-inflamasi seperti ibuprofen, aspirin,
naproxen dan ketoprofen. Parsetamol adalah pilihan yang lebih baik, karena
tidak begitu menganggu lambung.
Bersumber dari: Dispepsia – Pengertian, Gejala & Pengobatan | Mediskus.com
Bersumber dari: Dispepsia – Pengertian, Gejala & Pengobatan | Mediskus.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar